Dedaunan kelapa menari-nari melambai insan sang khalik yang terhanyut fatamorgana. Lantunan hempasan ombak menghanyutkan suasana damai nan tenang. Namun tak semua insan menapak dengan ringan, badan yang lunglai menatap hamparan laut. “Ai suka pantai?” Aku memulai pembicaraan. “Pantai?” Tanyanya kembali. “Suka! Em menurutmu laut itu menggabarkan apa?” Tambahnya panjang. “Laut menggambarkan ikan-ikan” Jawabku cepat. Dia menatapku kelihatan kurang senang dengan jawabanku, terlihat dari kedua alisnya yang sedikit berlayar menyatu. “Cinta, yah laut adalah cinta. Tak berpenghujung dan bertepi layaknya sebuah cinta, cinta abadi..!” Dia bersuara penuh ketenangan. Aku tersentak meresapi jawabannya. Belum sempat aku menjawab kata-katanya, dia telah pergi dengan lambaian keikhlasan nan suci dan menyingsingkan senyuman manis ke arahku. Yah dialah Aini, seseorang yang membuatku terpaku dalam khayalku.
Malam ini, amat sulit bagiku untuk
terlelap. Jiwa ini terasa gundah, resah, kau tak mengerti apa yang
merasuk jiwaku ini. Bacaan Qur’ani yang tedengar dari radio Bahasa F.M
telah selesai menerbang. Aku beristighfar sambil memejamkan mataku, tapi
apalah daya jiwaku tetap melayang tak henti-hentinya. Masih
terngiang-ngiang kata-kata Aini sore tadi, ditambah bayang-bayang
senyuman dan lambaian tangannya. Aini Chelsea atau dengan nama aslinya
Mei Ling Pyong, seorang putri hartawan pindahan ke Desaku 3 tahun lalu.
Keinginan dan minatnya mendalami ajaran Islamlah yang membuatku kagum
padanya. Pantai, itulah tempatku mencurahkan ilmuku padanya mulai
pandangan negatif barat terhadap islam, degadensi moral kaum muda, juga
tajwid. Akulah sumber rujukannya sejak dua tahun yang lalu, terkadang
dia memanggilku dengan sebutan kitab berjalan mungkin karena
kedetailanku dalam rujukan kitab-kitablah yang membuatku terkadang
dipanggil begitu. Bahkan dia menghafal beberapa surah pendek Al-Qur’an,
walaupun dia masih belum mendapatkan hidayah dari-NYA.
“Fir, boleh aku bertanya padamu..?”
Tanyanya. “Hei, ada apa Ai? Kenapa harus minta izin dulu?” Balasku
sambil sedikit tersenyum padanya. “Fir, Islam itu seperti apa menurut
pendapatmu?” Tanya Aini kembali. “Islam bagiku adalah agama yang
sempurna dan penuh kejelasan tampa sedikitpun tertutupi. Islam juga
menjawab ribuan keremang-remangan, selain itu islam juga tidak pernah
melarang kita berbuat sesuatu. Contohnya hiburan, Islam tidak
mengharamkan percintaan. Cuma kamu harus tahu batas batasnya. Adam yang
berada di Surga pun menginginkan pasangan, apalagi kita makhluk biasa.
Aku, Kamu, Semua inginkan pasangan.” Jawabku panjang lebar. Aini diam
mebisu, kedua bola matanya pun tak mau beranjak memandangiku. Mungkin
dia terperangkap dalam lantunan kata-kata terakhirku tadi.
Tiga hari berlalu, Aini tak pernah
lagi datang ke Pantai. Tapi aku coba berpikir positif, mungkin saja dia
sibuk membantu Ibunya di toko. Namun semua pikiranku terbantahkan
setelah aku menerima telphone dari Aini. Terdengar suara tangisan dari
ujung telphone sana. Aku terkejut mencoba menerawang apa yang sedang
terjadi. Suaranya sukar aku tafsir karena isakan tangisnya semakin
menjadi-jadi. Aku segera menuju ke rumah Aini memakai mobil Chevrolet 98
milikku, yang aku inginkan hanya memastikan tidak terjadi hal buruk
dengan sahabatku itu.
Dua belas menit perjalananku ke
rumahnya, aku melihat sesosok wanita tua di sudut rumahnya. Aini
membopoh wanita itu sambil menangis, Wanita itu adalah Ibu Aini. Tampa
banyak pikir aku segera membawa Ibu Aini ke Rumah Sakit 31 Januari.
“Saya berharap, anda bersabar. Ibu
anda mengidap penyakit kanker ginjal. Dia harus segera melakukan operasi
itu adalah jalan terakhir jika anda ingin Ibu anda selamat karena jika
tidak maka kemungkinan Ibu anda bertahan hidup sangatlah tipis”
Kata-kata Dokter itu bagaikan fonis kematian atas dirinya, tangisan Aini
kembali pecah, aku mencoba menenangkannya. Tapi tangisannya malah
semakin jadi.
“Aini, pak cik mau memberikan surat
ini dari Ibumu untukmu.” Kata Fang, Paman Aini dari Ibunya sambil
mengulurkan surat itu. “Makasih pak cik, sudah repot-repot membawakan
surat ini.” Jawab Aini.
Anakku Mei Ling Pyong,
Mama telah mengidap penyakit ini setahun yang lalu, tapi mama nggak mau bikin Mei tahu. Jadi Ibu merahasiakan semua ini darimu. Mama juga tahu bahwa Mama akan dioperasi. Namun Mama hanya ingin melakukan operasi jika Mei berjanji akan melupakan niat untuk memeluk islam.
Mei, Mama hanya punya seorang anak yaitu kamu Mei. Mama lebih baik mati dari pada mendengarkan Mei meninggalakan agama nenek moyang kita. Mama harap kamu mengerti Mei.
Mamamu,
Ling Guminho
Mama telah mengidap penyakit ini setahun yang lalu, tapi mama nggak mau bikin Mei tahu. Jadi Ibu merahasiakan semua ini darimu. Mama juga tahu bahwa Mama akan dioperasi. Namun Mama hanya ingin melakukan operasi jika Mei berjanji akan melupakan niat untuk memeluk islam.
Mei, Mama hanya punya seorang anak yaitu kamu Mei. Mama lebih baik mati dari pada mendengarkan Mei meninggalakan agama nenek moyang kita. Mama harap kamu mengerti Mei.
Mamamu,
Ling Guminho
Surat ini bagaikan halilintar yang
menusuk dirinya. Kini terbayang wajah Mamanya. Terbayang pula Al-Qur’an
dan Fir, sang penyemangat dan pendorongnya dalam hal-hal agama. “Apakah
ini takdirku, tuhan? Mama aku sayang Mama, jika mama tiada dimana aku
akan mendapat curahan kasih? Fir, apakah ini takdir tuhanmu? Tuhan yang
akan aku sembah suatu hari nanti? Kenapa ini harus terjadi padaku?”
Jerit Aini dalam hati sendirian.
—
“Fir, apa yang sedang kau pikirkan?”
Tanya Ghazali, teman kecilku. Namun, aku tetap diam menerawang jauh.
Terbayang wajah Aini yang menangis sendu di rumah sakit beberapa hari
yang lalu. “Aini, apapun yang akan terjadi aku akan tetap di sampingmu
dan membimbingmu ke jalan yang benar dan selamat, jalan yang kau impikan
selama ini. Percayalah, Mamamu akan selamat dan akan melangkah di jalan
yang kita tuju bersama. Jalan keridhaan-Nya” Aku mengukir kata kata
dalam hati.
“Hey Fir, dengarkan aku ini ada surat untukmu.” Ucap Ghazali sedikit emosi, sambil memberikan sepucuk surat. “Iya-iya.” Balasku sambil memberikan secuil senyum agar kawanku ini tidak marah lagi. Lalu kubuka surat itu perlahan.
“Hey Fir, dengarkan aku ini ada surat untukmu.” Ucap Ghazali sedikit emosi, sambil memberikan sepucuk surat. “Iya-iya.” Balasku sambil memberikan secuil senyum agar kawanku ini tidak marah lagi. Lalu kubuka surat itu perlahan.
Saudaraku Firman,
Seandainya surat ini telah engkau baca mungkin Mamaku sedang menjalani operasi Fir. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ibuku telah membuatku jatuh dalam kelut dan kabut, aku serba salah Fir, Mama tidak akan menjalani operasi jika aku akan memeluk Islam. Bagi Mamaku lebih baik mati dari pada melihatku meninggalkan agama nenek moyangku. Maafkan aku Fir, di dunia ini aku hanya memiliki Ibuku setelah 3 tahun lalu Ayahku meninggal. Mama adalah segala-galanya bagiku aku sangat menyayangi Mama. Fir, terimakasih atas semua bimbinganmu selama ini.
Mei Ling Pyong
Seandainya surat ini telah engkau baca mungkin Mamaku sedang menjalani operasi Fir. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Ibuku telah membuatku jatuh dalam kelut dan kabut, aku serba salah Fir, Mama tidak akan menjalani operasi jika aku akan memeluk Islam. Bagi Mamaku lebih baik mati dari pada melihatku meninggalkan agama nenek moyangku. Maafkan aku Fir, di dunia ini aku hanya memiliki Ibuku setelah 3 tahun lalu Ayahku meninggal. Mama adalah segala-galanya bagiku aku sangat menyayangi Mama. Fir, terimakasih atas semua bimbinganmu selama ini.
Mei Ling Pyong
Aku tertunduk, badanku terasa lemah
dan lesuh, aku tak berdaya. Masih teringat ucapan Ai di Pantai, lambaian
keikhlasan nan suci, dan menyingsingkan senyuman manis ke arahku.
“Kenapa Ai? Kenapa pikiranmu begitu sempit? Dimana keikhlasanmu terhadap
islam? Mengapa engkau begitu lemah? Dimana kekuatan keyakinan hatimu?
Mengapa kau begitu lemah dengan tipu muslihat dunia ini? Apakah tidak
cukup yang aku tuturkan tentang dunia ini? Dunia fana dengan seribu tipu
muslihatnya? Mengapa Ai?” Ribuan pertanyaan melayang-layang dalam kotak
pikiranku.
Hari ini semua telah menjadi hampa,
hidupku serasa tidak berarti lagi. Tak ada lagi sebuah batu yang
kulempar dan kukejar. Kepergian Ai dari jalan ini, Ibarat merubuhkan
jembatan Jannah yang telah kita bangun. “Dimana kekuatanmu selama ini?
Dimana keyakinanmu selama ini, Fir? Dimana peta Islam yang telah kau
rangkai? Mengapa batinmu sebegitu lemah? Pupus dan hancur karena seorang
Hawa? Seorang insan yang tersandung fana dunia? Sadarlah Fir, cinta
yang hakiki hanya pada yang Esa. Apakah kau lupa dengan semua itu Fir?
Mengapa jadi pendek nalar pikiranmu Fir? Cinta hakiki hanyalah pada-Nya
Fir. Ojok lali Fir (bahasa jawa: jangan lupa).” Beginilah kata-kata
pedas Ustads Rofil yang mengunjungiku pagi tadi. Beliau adalah guruku di
pondok Salafiyah Syafi’iyah dulu, seorang guru yang selalu membimbingku
hingga aku berada di titik ini. Selain itu Beliau terkenal dengan
sebutan ustad guntur, karena beliau jika menegur sangatlah pedas dan
langsung to the point.
Selepas beberapa minggu kemudian aku
mendengar kabar pernikah Aini. Dia melakukan pernikahannya dengan
seorang laki-laki yang tak aku kenal sama sekali, Aini pun tak pernah
menceritakan lelaki itu. Berita itu tersebar dengan cepat ke seluruh
daerahku. “Mungkin dia sekarang bahagia.” Rintih batinku perih.
SETAHUN KEMUDIAN
“Hey Fir, Apakah kau mendengar kabar hari ini?” Tanya Ghazali dengan nafas ngos-ngosan. “Belum, memangnya ada kabar apa Az?” Tanyaku balik padanya. Tampa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan Ghazali menyodorkanku koran Gens Akbar, lalu menunjuk ke bagian pojok koran lalu membacakannya.
“Hey Fir, Apakah kau mendengar kabar hari ini?” Tanya Ghazali dengan nafas ngos-ngosan. “Belum, memangnya ada kabar apa Az?” Tanyaku balik padanya. Tampa menjawab pertanyaan yang aku lontarkan Ghazali menyodorkanku koran Gens Akbar, lalu menunjuk ke bagian pojok koran lalu membacakannya.
“KONGLOMERAT
TEWAS DITEMBAK, Minggu 5 Januari 2013 telah terjadi penembakan seorang
konglomerat. Ling Guminho ditemukan berlumuran darah dibagian kepalanya
karena ditembak oleh menantunya sendiri Park Ching Ung. Berdasarkan
penyidikan POLRES Situjudo diindikasikan pembunuhan terjadi karena
terjadi perselisihan tentang pembagian saham perusahaan antara Menantu
dan Mertua tersebut. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya Tai Lang
Cheng ditahan di POLRES Situjudo. Sedangkan Mei Ling Pyong, anak korban
sekaligus Suami pelaku dirawat di Rumah Sakit Ruby karena mengalami
cidera dan shock.”
Aku sontak terkejut mendapatkan
berita ini. Tampa berpikir panjang aku segera pergi ke Rumah Sakit Ruby
untuk memastikan bahwa Aini baik baik saja. Namun Ghazali menghalangiku,
tapi aku tetap pergi karena di pikiranku kini hanya terbayang Wajah
Aini. Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya saat ini. Sesampainya di
Rumah Sakit Ruby Aku segera bertanya pada suster dimana tempat dirawat
Aini.
Sesampainya di kamar tempat Aini
dirawat aku melihatnya begitu telantar dan kesepian, Walaupun saat ini
dia sedang tertidur. Aku memutuskan untuk menemaninya malam ini.
Sepanjang malam itu Aini beberapa kali memanggil nama Ibunya. Mungkin
dia mengalami mimpi buruk akibat kejadian tragis yang menimpanya. Aku
menggenggam erat tangannya “Aini aku ada disini, aku akan menemanimu.
Aku nggak bisa membohongi diriku sendiri, aku mencintaimu, sangat
mencintaimu.” Ucapku dalam hati seraya tanganku menggenggam tangannya
sampai air mataku ini menetes.
Keesokan harinya mayat Mama Aini
dikebumikan. Pikiranku melayang membayangkan bagaimana perasaan Ai yang
tidak bisa menyaksikan Mamanya untuk terakhil kalinya. Tampa kusadari
air mataku menetes, mengingat kisah kelam Aini. Sedangkan Tai Lang
Cheng, suami Aini dituduh bersalah atas kasus pembunuhan mertuanya, dan
juga tuduhan atas penganiyayaan istrinya. Dia dihukum gantung sampai
mati.
Setelah seminggu dari kejadian tragis
itu, barulah Ai tersadar. Pertama kali dia membuka mata akulah orang
yang dia lihat, dirinya terkejut seolah ingin mengingat apa saja yang
telah terjadi. “Fir kenapa aku disini? Ini dimana? Apa yang telah
terjadi? Mengapa engkau menangis Fir?” Aini melontarkan pertanyaan
bertubi-tubi padaku. Aku kembali meneteskan air mata, aku terpaksa
menceritakan kembali tragedi tragis itu. Walaupun aku tidak ingin
menceritakannya sedikitpun, tapi Aini memaksa. Aku memegang erat tangan
Aini memberikan isyarat aku akan selalu ada di sisinya. Aini menangis
tersedu-sedu mendengar penjelasanku, walaupun aku memegang erat
tangannya tapi tangisnya semakin tak tertahankan. “Fir, maafkan aku! Aku
khilaf Fir, aku khilaf. Mungkin ini balasannya untukku. Kenapa ini
terjadi padaku? Aku menolak Islam, padahal selama ini aku begitu tenang
mendalami ajaran Islam ini” Begitulah kata-kata Aini, kata-kata insaf.
Disusul tangisannya yang semakin tak terbendungi.
Sebulan kemudian, di hadapan Imam
masjid Ibrahimy. Mei Ling Pyong telah melafadzkan dua kalimat syahadat.
Namanya diganti Aisyah Ibrahimy. Itulah saat-saat bahagia bagiku dalam
hidupku.
Masa berlalu, kupikir tiada lagi
tangis dan derai air mata dalam hidup Aisyah, dan dalam hidupku juga.
Namun, seorang insan hanya manpu merancang. Allah menentukan
segala-galanya. Panggilan telphone dari Rumah Sakit Ruby di pagi hari
itu menghadirkan kembali episode duka dalam hembusan nafasku dan nafas
Aisyah. Aisyah diminta datang ke Rumah sakit Ruby.
“Aisyah, anda bersabar ya!
Berdasarkan hasil laboraturium pengecekan darah pada saat anda dirawat
disini dulu, anda positif mengidap HIV. Kemungkinan besar anda
mendapatkan penyakit ini dari bekas suami anda. Dan kemungkinan umur
anda hanya tinggal sedikit lagi.” Itulah perkataan Dokter di pagi itu.
Aisyah kembali meneteskan air matanya. Apa lagi yang harus dilakukannya, seorang mahluk yang lemah dan tak berdaya bergelah wanita itu. “Ya Allah, apakah ini ujian darimu? Dosa apakah yang telah hamba lakukan? Ampunilah dosaku ini ya Allah, dosaku yang tak terehitung. Mengapa nyawaku ini begitu cepat akan kau ambil? Amal hambamu ini masih sangatlah sedikit. Ampunilah hambamu yang hina ini.” Aisyah merintih dalam doanya malam itu.
Aisyah kembali meneteskan air matanya. Apa lagi yang harus dilakukannya, seorang mahluk yang lemah dan tak berdaya bergelah wanita itu. “Ya Allah, apakah ini ujian darimu? Dosa apakah yang telah hamba lakukan? Ampunilah dosaku ini ya Allah, dosaku yang tak terehitung. Mengapa nyawaku ini begitu cepat akan kau ambil? Amal hambamu ini masih sangatlah sedikit. Ampunilah hambamu yang hina ini.” Aisyah merintih dalam doanya malam itu.
Di pantai itu, aku menemani Aisyah,
aku mencoba menghiburnya dan meyakinkannya kembali. “Aisyah masih
ingatkah kamu saat-saat ini?” Tanyaku. “Hemm, Cinta Tak berpenghujung
dan bertepi layaknya sebuah cinta, cinta abadi. Seperti cintaku pada
penciptaku” Jawabnya penuh perasaan. “Benar katamu itu. Cinta yang
paling agung dan abadi adalah kepada penciptamu, Allah.” Balasku
padanya. “Aisyah Allah mengaruniai banyak nikamat cinta untukku, cinta
kepada-Nya. Dan cinta kepada kepada seorang hambanya, hambanya yang
berada di depan mataku ini. Aku mencintaimu Aisyah.” Kataku penuh
keikhlasan. Aisyah kaget, matanya menatapku seolah mengatakan apakah kau
bersungguh-sungguh?. Lalu suasana menjadi sunyi. “Aisyah aku ingin
memperistrikanmu. Percaya padaku Aisyah, percayalah pada kata-kataku.
Aku sanggup menanggung semuanya. Aku Ridha Aisyah.” Tambahku. Aisyah
menangis. “Fir, hayatku tinggal sedikit lagi. Kau akan menyesal suatu
hari nanti. Apakah kau sanggup kehilanganku nanti?” Tanya Aisyah.
“Mengertilah Aisyah, mengapa aku harus melupakan karunia yang diberikan
Allah ini? Cinta ini adalah karunia dari Allah. Aku akan menjagamu
Aisyah! Cinta yang hakiki ini hanya untuk-Nya. Tapi salahkah jika aku
mencintai hambanya? Salahkah aku menjagamu, membantumu, menyayangimu,
layaknya Allah yang menyayangi hambanya? Kau terlalu memikirkan kematian
itu. Aisyah kita sebagai mahluknya hanya mampu merancang. Allah yang
akan memutuskan semuanya. Engkau adalah cinta abadiku, Allah adalah
cinta hakikiku.” Jawabku penuh keyakinan.
Kebahagian berumah tangga bersama
Aisyah begitu singkat berlalu. Banyak kenangan indah yang diukir
bersama. Namun di suatu pagi itu, disaat ummat muslim sedang beribadah
kepada-Nya. Aisyah telah pergi untuk selama-lamanya. Wajahnya begitu
tenang bercahaya, meninggalkanku sendirian. “Fir suamiku terimakasih
atas segalanya. Aku menunggumu disana.” Itulah kata-kata terakhir yang
Aisyah ucapkan padaku. Aku pasrah, malam itu Aisyah hadir dalam mimpiku.
Melambai-lambai padaku. Di suatu tempat yang indah nan suci.
Terlihat seorang pemuda tertunduk di
pantai itu. Lalu pemuda itu bangkit dan pergi dari pantai itu, itulah
Firman. Hari-Hari Seterusnya tiada lagi terlihat Fir di pantai itu. Di
suatu pagi yang sunyi itu, Fir telah menghembuskan nafasnya yang
terakhir. HIV positif terjangkit ditubuhnya, HIV yang dibawa istrinya.
Dia dikebumikan di sebelah kanan makam istri tercintanya, Aisyah.
Mungkin kebahagian yang hakiki akan mereka dapatkan disana. Inilah
Islam, sebuah cinta abadi nan hakiki.
Cerpen Karangan: Wahyu Zugor
Facebook: Wahyu.p.zugor
source : http://cerpenmu.com/cerpen-islami-religi/islam-cinta-abadi-nan-hakiki.html
Facebook: Wahyu.p.zugor
Tidak ada komentar:
Posting Komentar